Optimalisasi Pekarangan dengan Kebun Bergizi

Menata Diri Dengan Kolaborasi

Pada setiap priode pemerintahan, keinginan untuk mensejahtrakan rakyat ditetapkan sebagai agenda pembangunan nasional. Untuk tujuan itu, pemerintah meluncurkan berbagai program, seperti Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) dan pemberdayaan koperasi dan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) (Arsy, 2010: 12). Adapun di dunia pendidikan tinggi, hampir semua perguruan tinggi memiliki program pengabdian kepada masyarakat. Namun demikian, apa yang di maksud dengan kesejahtraan social itu tidak membumi di banyak wilayah masyarakat. Alih-alih membangun civil society, yang terjadi adalah pragmatis pola dan kebiasaan. Kenyataan ini bisa dilihat lahan-lahan produktif di kampung di tinggalkan pemiliknya yang sedang mengadu nasib di ibu kota, padahal sumber kekayaan alam lebih banyak di perkampungan mencari daun singkong,daun salam pun banyak di pekarangan depan rumah tapi akhir-akhir ini tergerus oleh keadaan, pemandangan empiris membuktikan banyak orang-orang kampung setiap minggunya berangkat ke ibu kota sambil membawa beberapa ragam sayuran ke ibu kota tidak memikirkan siapa yang menanam kembali. Karena hilangnya kesadaran untuk kolaborasi (berjamaah).

Melestarikan lingkungan merupakan bentuk syukur kita kepada sang khaliq dalam menata bumi ini, tanah-tanah yang luas jarang tersentuh tangan-tangan lembut menjadi tak berarti, padahal kita di perintahkan untuk mengatur, mengelola, bahkan menata bumi dengan potensi yang di milikinya.  Jikalau ada, masih kebingungan mencari saluran yang mampu mewadahi keinginannya. Semuanya berjalan sebagaimana adanya : bussines at usual. Belum tampak ada upaya untuk mencari nilai tambah dari potensi local yang tersedia. padahal, lokalitas itu perlu di kembangkan. Tidak hanya budaya local, tapi pengetahuan local, dan kearipan local. Jika dikombinasikan dengan kejumudan agama, apatisme itu menemukan jodohnya, masyarakat jadi menunggu dan menunggu uluran tangan.

Manusia tak lagi taat dengan pesan Rosulalah saw untuk tidak berpangku tangan : “Tangan di atas lebih baik dari tangan di bawah” . Manusia tidak lagi peduli dengan imbauan supaya gerak berusaha dan bekerja, dalam logika sederhana, kenapa harus susah-susah bekerja, jika dengan “memajang” tangan sudah menghasilkan uang. Pilihan itu membawa efek bawaan, generasi di bawahnya memilih menunggu dan memelas untuk di beri, mereka tidak tertarik mengikuti orang tuanya yang sedang menggarap lahan. Meski hanya sekedar membantu, pilihan itu tidak mau di lakukannya, mereka tidak bersedia berkotor-kotor ria, kecuali terpaksa, karena tertekan kebutuhan dan tidak ada pilihan lain.
Kita yang menanam, kita pula yang memetik hasilnya hukum alam tetap berlaku, jika kita mengoptimalkan pekarangan depan rumah banyak sekali lahan yang membutuhkan sentuhan hangat.

Menanam tanaman yang bermanfaat seperti cabai, tomat, tidak membutuhkan lahan yang luas pekarangan depan rumah pun sangat cocok, prilaku menanam tanaman pekarangan depan rumah selain menambah nilai estetika keberadaan rumah juga memiliki nilai etika dan nilai ekonomi. Pertama di lihat dari sudut pandang nilai estetika, keberadaan rumah yang pekarangan depan rumahnya di hiasi tanaman apa pun itu tanamannya akan terlihat lebih menarik di bandingkan rumah yang tidak ada tanamannya. Kedua, secara sudut pandang nilai etika manusia sebagai khalifah fiil ardi harus berhubungan baik dengan lingkungan alam sekitar dilarang untuk merusaknya karena tidak ada ciptaan Allah yang sia-sia. Ketiga, secara nilai ekonomi mengoptimalkan pekarangan depan rumah juga dapat memberikan keberlimpahan finansial misalnya sekarang lagi di beritakan harga cabai melambung tinggi, petani kewalahan mengelolanya, komentar pun berhamburan “ harga cabai mahal,cabai pun rasanya manis” itulah obrolan para penikmat cabai. Coba kita bayangkan dalam suatu perkampungan terdapat 20 rumah, 1 rumah menanam cabai dengan jumlah 10 batang dan satu pohon cabai berbuah sebanyak 5 kilo gram, maka dengan contoh itu kita bisa melakukannya dengan mudah, jika itu terealisasi maka keberlimpahan ekonomi akan terasa melimpah masuk ke uang saku tanpa harus jauh-jauh meninggalkan kampung halaman. (Syafaat, A)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tanda Pasangan Bosan